Makna Persabatan

Pingintau.id- DUA bocah yang masih belita berumur dua tahunan terlihat selalu ceria, rambutnya basah, mukanya terlihat masih segar, kedua pipi dan jidatnya pun masih terlihat polesan bedak beraroma harum. Bahkan sebagai pelengkap wangi minyak kayu putih pun membalut seluruh tubuhnya. Diva dan Inara itulah nama kedua balita tersebut, yang selalu meramaikan Perumahan Pesona Harapan Jaya, Tahap I Blok C-1, Jalan KH. Azhari, Kalidoni, Palembang.

Hampir setiap hari [dari pagi hingga sore] mereka berdua selalu  bermain. Suaranya selalu terdengar di Blok C-1. Dengan bahasa yang masih belum jelas [Bahasa Baby]. Ntah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka kerap merumpi berdua, layaknya orang dewasa, dengan sekali-sekali mereka mondar-mandir di depan Blok C-1, seperti tak kenal lelah.

Saking akrabnya, mereka berdua sangat dikenal dimata Warga Tahap I. Memang itulah sifat bocah, dibenaknya, hanya dua yang bisa membuat mereka senang, yakni bermain dan jajan ke warung. Mereka sering membeli jajanan bersama di warung yang tidak jauh dari tempat tinggalnya sembari bergandengan tangan, jika ada kendaraan yang melintas mereka pun saling mengingatkan untuk jalan dipinggir mengambil tempat yang aman dengan saling bertuntunan tangan. “Kito minggir dik,! Ado mobil,”kata Diva kepada Inara sembari Diva memegang tangan Inara.

Meski umur mereka hanya selisih 1 bulan, namun Inara tetap menghargai Diva, dengan menyapa  sehari-hari, dengan sebutan ‘ayuk’ [kakak]. Sebagai bocah, mereka berdua pun sering cek –cok, seperti anak balita lainnya yang sebaya dengan mereka.  Bahkan  salah satunya sampai menangis, biasanya jajanan dan berebut mainan itulah penyebabnya. Namun sifat bocah tak sama dengan orang dewasa, setelah mereka bermusuhan mereka bisa akur kembali, bahkan hanya lima menit dan  mereka sudah akrab dan bermain bersama-sama lagi.

Ke duanya memang masih sangat lugu, namun, uniknya kerena mereka berdua memiliki tempat nongkrong yang favorit, layaknya orang dewasa. Mereka dapat dijumpai disore hari menjelang petang. Tempat favorit itu tak lain di depan blok C-1 di sudut rumahku, tepatnya di tiang  listrik dan tiang jaringan WIFI berdiri berdampingan. Di ruang tamu sembari menikmati sebatang rokok dan segelas kopi, aku pun sering mengamati tingkah laku  kedua bocah tersebut yang tengah asyik merumpi dengan bahasa baby-nya.

Aku, terkadang ikut geli dan tertawa sendiri mendengar rumpian mereka, yang tak jelas, namun mengucapkan kata demi katanya bisa terdengar jelas ditelingaku. Meski demikian, tanpa disadari inilah hiburan gratis di daerah marjinal yang jauh dari kebisingan suara knalpot truk dan kendaraan pribadi lainnya yang melintas.

Arti persahabatan memang sangat bermakna bagi kita yang telah dewasa ataupun udzur, tapi jika kita menyadari dan mau mengintropeksi diri, merek seharusnya kita mencontohkan persahabatan bocah yang masih balita, karena cek-cok mereka tidak sampai turun ke hati yang menimbulkan permusuhan sampai berlama-lama, bisa satu bulan, bertahun-tahun, hingga berumur udzur, kendati ia salah,  karena hanya untuk memperhatankan ego-nya,  sampai mati pun, sifat orang dewasa tak mau merasa salah.

 

Makna persahabatan

Mengutip laman resmi Wikipedia bahasa Indonesia Persahabatan [ pertemanan] adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi.

Dalam pengertian ini, istilah “persahabatan” menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan,penghargaan, afeksi dan perasaan.  Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, sering kali hingga pada altruism. Selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan.

Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan sering kali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka. Pertemanan bisa menurunkan peluang terkena penyakit kronis. Pertemanan memang bisa membuat seseorang bahagia atau pun menghancurkan seseorang. Teman sejati tentu sangat bermanfaat bagi kesehatan mental dan benar-benar membantu kita mengatasi masalah pribadi, tragedi, atau bahkan hanya memberi kita bahu saat sedih.

Selain itu, satu studi juga menemukan bahwa pertemanan bisa menurunkan peluang kita terkena penyakit kronis atau stroke, yang sering dikaitkan dengan kecemasan dan perasaan terisolasi. [liputan6.com]. Bahkan sang legendaris Petinju Dunia Muhammad Ali pun memiliki kata-kata bijak “Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia. ini bukanlah sesuatu yang Kamu dapatkan di sekolah. Tetapi, jika Kamu belum belajar arti persahabatan, maka Kamu belum belajar apapun.”

Maksudnya, jalanilah proses dalam hidup dengan sahabat karibmu. Untuk dapat mengerti arti hidup, Kamu harus mulai menjalin persahabatan. Melansir Sumbarprov.go.id, sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan keberadaan orang lain .Karenanya, dalam menghadapi perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan seorang yang mampu memberikan dukungan positif bagi kita. Kita mengenalnya dengan sebutan sahabat.

Dalam Islam, terciptanya hubungan berupa persahabatan merupakan salah satu yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT sebagaimana firman-Nya berikut, “Sebenarnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang bersaudara, maka damaikanlah  di antara kedua saudara kamu (yang bertelingkah) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh rahmat.” (Qs. Al-Hujurat : 10).

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis,

Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.”(HR. Muslim).

Ada 7 jenis persahabatan yang bisa kita ambil pelajarannya, yakni :

  1. “Ta’aruffan” , adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.
  2. “Taariiihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.
  3. “Ahammiyyatan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.
  4. “Faarihan”, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, tenis, berburu, memancing, dan sebagainya.
  5. “Amalan”, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, dan sebagainya.
  6. “Aduwwan”, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, “Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120).

Rasulullah mengajarkan doa, “Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”

  1. “Hubban Iimaanan”, adalah sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang karena Allah SWT, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10),

Teman-teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).

Sang legendaris Petinju Dunia Muhammad Ali pun memiliki kata-kata bijak  : “Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia. Ini bukanlah sesuatu yang Kamu dapatkan di sekolah. Tetapi, jika Kamu belum belajar arti persahabatan, maka kamu belum belajar apapun.” [goodminds.id].

Persahabatan Diva dan Inara, apakah bisa tetap terjalin hingga mereka berumur belasan tahun ke atas ? hanya waktu-lah yang bisa menjawabnya. Semoga kita  senantiasa  saling mengharga, mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.[***]

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *