Ragam  

Begini Cerita Seniman Keramik Asal Jogjakarta Saat Ngajar Langsung Para Siswa Sekolah Seni di Kunstschule, Beragam Bentuk Tanah Liat Ini Siap Dibakar, Mulai dari Bentuk Tokoh Animasi Hingga Abstrak Sarat Nilai Seni

Pingintau.id – Vadus, Liechtenstein – Endang Lestari, seniman keramik asal Jogjakarta, Indonesia berkesempatan untuk mengajar langsung siswa Kunstschule (sekolah seni), di Vaduz, Liechtenstein (27-28/09/2021).

Berjejer di meja kayu besar, berbagai bentuk tanah liat yang dibentuk para siswa siap untuk dibakar, mulai dari bentuk tokoh animasi, sampai dengan bentuk abstrak yang sarat nilai seni.

Walaupun sempat terkendala bahasa, kelas tetap berjalan dengan efektif. “Seni itu melampaui keterbatasan bahasa, saya memang tidak bisa berbahasa Jerman, jadi kalau saya kesulitan menjelaskan, saya membentuk tanah liat saja, dan ternyata siswa lebih cepat mengerti”, ujar Tari, panggilan akrabnya. Tari mengaku membebaskan siswa untuk berkreasi menggunakan tanah liat tersebut. “Saya hanya berbagi teknik saja”, lanjutnya.

Program mengajar keramik tersebut merupakan beberapa program yang dilakukan antara Indonesia dengan Liechtenstein. “Seni merupakan bahasa universal, jadi kami sangat senang program ini bisa berlangsung,” ucap Martin Walch, Direktur Kunstschule Liechtenstein ketika melihat langsung kelas keramik tersebut. “Di sini, kami memiliki banyak program yang bisa dipilih para siswa sebelum mereka memutuskan bidang seni apa yang akan mereka tekuni secara serius di masa depan,” tambahnya.

Dalam program tersebut, Endang Lestari berduet dengan Ursula Federli-Frick, seorang ahli keramik yang juga mengajar di Kunstschule Liechtenstein. “Saya sangat senang bekerja sama dengan Tari, kami punya selera keramik yang sama”, kelakarnya.

Endang Lestari, merupakan seniman keramik lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang telah menggelar berbagai pameran di Indonesia dan luar negeri. Tari juga sempat melakukan lokakarya keramik di berbagai negara. Bagi Tari sendiri, keramik merupakan panggilan hidupnya, walaupun kini tidak banyak seniman yang fokus pada seni keramik.

(Sumber: KBRI Bern)

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *