Sumsel  

Rumah Boen Tjet: Saksi Bisu Akulturasi Budaya di Tepian Sungai Musi

Pingintau.id – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kota, di tepian Sungai Musi tepatnya di Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, berdiri kokoh sebuah bangunan tua yang menyimpan kisah panjang: Rumah Boen Tjet. Lebih dari 3 abad berlalu, rumah ini tetap berdiri sebagai bukti nyata harmoni budaya antara masyarakat Tionghoa dan Melayu Palembang yang telah terjalin sejak zaman dahulu.

Dibangun pada abad ke-18 oleh saudagar kaya bernama Ong Boen Tjit, rumah ini semula menjadi tempat tinggal sekaligus pusat aktivitas perdagangan rempah-rempah. Keistimewaannya tak hanya terletak pada usianya yang renta, tetapi juga pada bahan pembuatannya yang istimewa: seluruh rangka utamanya terbuat dari kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama, konon dibawa langsung dari negeri asalnya.

Yang membuatnya semakin unik adalah gaya arsitekturnya yang memadukan tiga unsur budaya sekaligus: bentuk bangunan khas Tionghoa, tata ruang yang menyesuaikan iklim tropis Nusantara, serta orientasi bangunan yang menghadap sungai – cerminan kehidupan masyarakat Palembang yang dulunya sangat bergantung pada aliran Sungai Musi sebagai jalur transportasi utama.

Hingga kini, rumah ini masih dihuni oleh keturunan generasi keenam Ong Boen Tjit. Tidak sekadar menjadi tempat tinggal, bangunan ini kini juga menjadi destinasi wisata budaya yang terbuka untuk dikunjungi. Pengunjung dapat menyusuri ruangan-ruangan tua, melihat ornamen-ornamen peninggalan zaman dahulu, serta merasakan langsung suasana masa lalu yang masih terasa kental. Bahkan, tersedia pula kafe dan penginapan sederhana bagi siapa saja yang ingin merasakan sensasi tinggal di rumah bersejarah.

Rumah Boen Tjet mengingatkan kita bahwa perbedaan budaya bukanlah pemisah, melainkan bisa menjadi kekuatan yang memperkaya peradaban. Ia bukan sekadar bangunan kayu dan batu, melainkan saksi bisu bagaimana toleransi dan kerja sama telah tumbuh subur di bumi Sriwijaya ratusan tahun silam.