Beduk Masih Bergema di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

oplus_32

Pingintau.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi, suara beduk di banyak masjid kini mulai jarang terdengar. Kehadiran pengeras suara modern membuat beduk perlahan ditinggalkan dan hanya menjadi simbol pelengkap bangunan masjid semata.

Namun suasana berbeda masih terasa di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.

Masjid kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan tersebut hingga kini tetap mempertahankan tradisi menabuh beduk setiap memasuki waktu salat lima waktu.

Dentuman beduk yang khas masih bergema di kawasan sekitar masjid, menghadirkan nuansa religius sekaligus membawa memori tentang tradisi Islam tempo dulu yang penuh kekhidmatan.

Bagi masyarakat Palembang, suara beduk bukan sekadar penanda waktu salat, melainkan bagian dari warisan budaya dan sejarah yang melekat kuat dengan perjalanan Palembang sebagai kota religius dan berbudaya.

Irama beduk yang berpadu dengan lantunan azan menciptakan suasana spiritual yang menenangkan hati jamaah maupun masyarakat sekitar.

Di era modern sekarang ini, keberadaan beduk menjadi simbol bahwa tradisi lama tetap dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.

Namun masjid yang berada di pool ust kota itu tetap menjaga fungsi beduk sebagai bagian dari identitas dan ciri khas masjid tertua serta terbesar di Sumatera Selatan tersebut.

Tidak sedikit jamaah maupun wisatawan yang merasa kagum ketika mendengar suara beduk masih ditabuh secara rutin. Tradisi itu dianggap mampu menghadirkan rasa nostalgia sekaligus memperkuat nilai budaya Islam Melayu yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan beduk di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu harus menghilangkan tradisi.

Justru dengan tetap mempertahankannya, nilai sejarah dan kearifan lokal dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi muda di masa mendatang.