BRIN manfaatkan riset biomassa untuk kosmetik

Pingintau.id, Tahun 2020 lalu Kementerian Perindustrian menyatakan pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional termasuk kosmetik tumbuh sebanyak 9,39%. Angka ini berkontribusi sebanyak 1,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan dalam kondisi pandemi nilai ekspor produk-produk ini mencapai Rp4,44 triliun dan memberikan kontribusi cukup besar untuk devisa. Menilik kondisi tersebut, tentunya industri kosmetik masih sangat membutuhkan bahan baku produk kosmetik, termasuk mengikuti tren kosmetik dari bahan alami.

“Saat ini tugas BRIN melalu Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) adalah melaksanakan riset di bidang biodiversitas, mentransformasikan riset bidang biodiversitas dan melakukan riset tentang biomassa. Oleh karena itu keberadaan biomassa dan bioproduk menjadi sangat penting karena menjadi komponen utama industri,” ucap Iman Hidayat selaku Kepala ORHL saat membuka webinar bertema “Membangun Kemandirian Bangsa dengan Riset Kosmetik Berbasis Biomassa” pada Jumat (12/8).

Menambahkan pernyataan Iman, Akbar Hanif Dawam selaku Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) menyatakan banyak sekali pemanfaatan biomassa yang telah dilakukan dalam riset. Diantaranya meliputi kayu, non-kayu, resin, serat alam, polisakarida, biji-bijian, limbah pertanian, tanaman air, makroalga, dan oily-plant residue untuk menghasilkan biomaterial, biokimia, bioenergi dan bioproduk lainnya.

“Terdapat beberapa contoh riset biomassa untuk aplikasi kosmetik telah dilakukan Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB), yaitu riset tengkawang, namun statusnya masih uji lanjut untuk krim wajah anti penuaan dan anti oksidan sampai layak pakai dan dijual.  Selain itu, ada juga riset untuk pemanfaatan daun ulin sebagai minyak rambut/pomade dan minyak astiri utk berbagai produk wewangian dan aplikasi lainnya ,” imbuhya.

Widya Fatriasari, selaku Koordinator (Person in Charge) Pusat Kolaborasi Riset Kosmetik Nano Berbasis Biomassa dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, menjelaskan fokus riset BRIN untuk biomassa adalah pemanfaatan komponen biomassa khusunya cell walls, seperti lignin, selulosa, hemiselulosa dan juga ekstraktif lain yaitu tannin, atsiri dan herbal.

“Melalui teknologi nano partikel ukuran 100 nano, material biomassa tersebut kami coba untuk ekstrak untuk menghasilkan material aktif kosmetik. Hasil kolaborasi potensi kedua riset inilah yang menginisiasi terbentuknya Pusat Riset Kolaborasi Kosmetik Nano Berbasis Biomassa dimana targetnya adalah agar aktif material dapat diolah dengan menggunakan nano teknologi untuk mengembangkan kosmetik nano. Kami baru berkolaborasi dengan Universitas Mulawarman dan Universitas Airlangga, namun ada juga kolaborasi dengan international seperti dengan Universiti Teknologi Malasyia (UTM) dam Kyushu University Jepang,” ungkap Widya.

Widya menjelaskan lignin memiliki potensi sebagai kosmetik karena memiliki sifat antioksidan, antibacterial, dan UV absorber, namun kendalanya memiliki warna cenderung gelap. Beberapa Lignin dapat dimanfaatkan sebagai tabir surya karena kandungan tersebut mengingat uji sitosksitasnya relatif aman.

Dilihat dari sisi nano teknologi, Yenny Meliana Peneliti pada Pusat Riset Kimia Maju BRIN menjelaskan teknologi nanoemulsi arahnya adalah untuk meningkatkan efektivitas kosmetik dalam memfasilitasi penyerapan kulit dari setiap produk.

“Melalui teknologi nanoemulsi kita mencampur fasa minyak dan fasa air dengan menggunakan surfaktan sehingga menjadi emulsi yang cocok untuk produk kosmetik. Untuk tampilan bentuk produk nanoemulsi  ukurannya lebih stabil secara kinetika dan jernih. Prinsipnya teknologi ini membuat kelarutan suatu zat di dalam besaran droplet terhadap waktu, sehingga ukurannya lebih stabil,” ujar Yenny.

Untuk pemanfaatan minyak astiri, Aswandi, Peneliti PRBB BRIN menyatakan masih banyak diminati oleh pelaku industri kosmetik. “Kini trennya ke natural beauty yang mendorong pengembangan minyak astiriMinyak astiri memiliki partikel dan molekul yang sangat kecil sekali sehingga dapat masuk dengan mudah ke dalam kulit,” ungkapnya.

“Potensi minyak astiri untuk kosmetik sangat tinggi karena bahan alam penghasil minyak astiri melimpah, seperti ekstrak kenanga, melati, lavender dan tanaman lainnya. Proses pengolahan ekstrak minyak astiri dilakukan dengan proses distilasi, sehingga tidak meninggalkan noda lemak, dapat menguap dan memiliki waktu simpan yang lebih lama,” tutup Aswandi.[***]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *