PINGINTAU.ID, SUMATERA SELATAN — Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) terbukti memberikan efek berganda (multiplier effect) yang nyata bagi perekonomian daerah.
Perputaran ekonomi dari sektor ini tidak hanya berasal dari Dana Bagi Hasil (DBH), melainkan juga dari hidupnya ekosistem industri penunjang lokal dan penyerapan tenaga kerja.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Safei Syafri, SH, MH, menegaskan bahwa kehadiran Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di provinsi seperti Sumatera Selatan, memicu pertumbuhan sektor perhotelan, transportasi, logistik, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah operasi.
“Industri hulu migas di Sumbagsel didorong untuk tidak sekadar memikirkan lifting, tetapi juga bagaimana operasional di lapangan bisa langsung menghidupkan ekonomi warga lokal,”kata Safei Syafri, saat field trip dengan Forum jurnalis migas di Lembak kabupaten Muara Enim. Senin 8 Juni 2026 yang lalu.
Dikatakan Efek berganda hulu migas di regional Sumbagsel secara konkret, Pasokan gas bumi dari lapangan-lapangan di Sumbagsel menjadi bahan baku utama bagi PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) di Palembang untuk memproduksi pupuk untuk menjaga ketahanan pangan nasional, serta memasok pembangkit listrik PLN di wilayah Sumatra.
Selanjutnya, Keterlibatan tenaga kerja lokal di wilayah kerja (WK) migas Sumbagsel rata-rata telah mencapai di atas 80% untuk posisi kru lapangan dan pendukung. Pengadaan barang dan jasa juga diprioritaskan bagi vendor lokal yang memenuhi kualifikasi.

“Ada Program Pengembangan Masyarakat, KKKS di Sumbagsel secara konsisten melakukan pembinaan UMKM, mulai dari klaster pertanian, peternakan, hingga kerajinan khas daerah agar mandiri secara ekonomi,”jelasnya
Dijelaskan masalah Infrastruktur pembangunan infrastruktur operasional hulu migas seperti jalan akses, jembatan, dan fasilitas air bersih di wilayah pelosok Sumbagsel kini dirasakan langsung manfaatnya oleh mobilitas warga antardesa.
Bersama SKK Migas, pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyasar sektor-sektor potensial lokal agar masyarakat sekitar area operasi bisa mandiri secara ekonomi.
Sektor Kuliner dan Olahan Pangan Lokal yang paling banyak dibina karena memanfaatkan potensi komoditas khas Sumatra Selatan dan sekitarnya. Olahan Ikan perajin pempek, krupuk, abon ikan, hingga sale pisang.
Pembinaan sektor hulu untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan lapangan kerja. Kelompok budidaya ikan lele, patin, atau nila di kolam terpal atau keramba. K
“KKS membantu penyediaan bibit, pakan, hingga teknologi pengolahan pasca-panen,”ujarnya
Pengembangan tanaman hortikultura, sayuran hidroponik, dan tanaman obat keluarga (TOGA) yang kemudian diolah menjadi jamu, minuman herbal. (Ward)















