Perhiasan Lokal Raup Miliaran, Apa Rahasianya?

foto : kemenperin

KALAU dulu orang cuma bilang, “emas itu buat simpanan,” kini emas, mutiara, dan batu mulia lokal punya panggung sendiri laku keras di pasar global. Bukan sekadar perhiasan, tapi kombinasi desain kreatif, sentuhan budaya lokal, dan kemampuan IKM (Industri Kecil Menengah) membuat produk Indonesia jadi rebutan.

Fakta paling segar? Di Jakarta International Jewellery Fair (JIJF) 2026, 10 IKM perhiasan yang difasilitasi booth resmi Kemenperin berhasil mencatat penjualan Rp463,8 juta dalam hitungan hari!

Menariknya, tren global ikut mendukung. Pasar internasional kini lebih menghargai produk handmade, custom design, dan sustainable jewellery.

Artinya, karya tangan lokal yang sarat cerita budaya bukan cuma cantik di mata, tapi juga punya nilai jual tinggi.

Dari Lombok sampai Banten, IKM perhiasan menampilkan mutiara, batu mulia, dan desain kreatif yang bikin pengunjung pameran melotot. Kalau dulu kita cuma bisa bangga sama batik, sekarang “bling-bling” lokal juga bisa bikin dunia melirik.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut industri perhiasan sebagai sektor strategis yang memberi kontribusi nyata terhadap devisa negara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan capaian ekspor perhiasan Indonesia USD 8,4 miliar sepanjang Januari-November 2025, naik 65,3% dibandingkan 2024.

Artinya, kalau perhiasan bisa bicara, kata-katanya jelas “Indonesia layak diperhitungkan!”

Tapi, cerita sukses ini bukan cuma soal angka. Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menekankan bahwa JIJF bukan sekadar ajang jual-beli.

“Kami ingin IKM dapat pengalaman, jejaring bisnis, dan inspirasi untuk terus berinovasi,” ujarnya. Jadi, setiap mutiara atau batu mulia yang dipajang bukan cuma hiasan – mereka adalah bintang kecil yang membawa cerita lokal ke panggung dunia.

Beberapa IKM yang ikut pameran antara lain Dian Art Accessories (Jawa Timur), Echa Pearl (NTB), Mutiara Lombok Waidah (NTB), hingga M&M Pearls (NTB). Produk mereka? Bervariasi  ada kalung mutiara, cincin batu mulia, hingga aksesori custom yang unik.

Pendek kata, pengunjung bisa melihat perpaduan tradisi dan inovasi modern yang bikin siapa pun ingin bawa pulang satu.

Dari sisi bisnis, strategi mereka juga cerdas. Banyak IKM memanfaatkan teknologi dan platform digital untuk mempermudah pemesanan, ekspor, dan promosi. Ditambah program pemerintah seperti e-Smart IKM, workshop ekspor, dan fasilitasi booth, semakin membuka peluang untuk naik kelas.

Efeknya? IKM bukan cuma bertahan, tapi juga bisa bersaing di pasar global yang keras.

Selain ekonomi, ada nilai budaya yang kuat. Setiap desain perhiasan mengandung cerita lokal—dari motif tradisional, filosofi batu, hingga teknik pengerjaan turun-temurun. Jadi, setiap kalung atau cincin yang dibeli konsumen bukan cuma aset, tapi juga bagian dari identitas Indonesia yang bisa dibawa keliling dunia.

Reny Meilany, Direktur Industri Aneka, menambahkan, “Pameran ini bukan hanya soal penjualan, tapi bagaimana IKM bisa membangun jaringan dan mendapat wawasan industri yang lebih luas.” Fakta Rp463 juta itu hanyalah angka di atas kertas sesungguhnya, pengalaman, koneksi, dan peluang ekspor yang muncul dari ajang ini jauh lebih berharga.

Dengan dukungan pemerintah, tren global, dan kreativitas IKM, masa depan perhiasan lokal terlihat cemerlang. Dari JIJF 2026, satu pesan jelas: produk Indonesia tidak hanya cantik, tapi juga kompetitif, inovatif, dan punya cerita yang bikin dunia ingin tahu. (****)