Stok Aman, Cabai Merah Merona, Aman Hingga Lebaran?

foto : badanpangan.go.id

STOK aman cabai merah merona menjadi dua realitas yang berjalan beriringan menjelang Lebaran 2026. Pemerintah memastikan cadangan pangan nasional cukup hingga selepas hari raya. Namun di pasar tradisional, harga cabai rawit merah sempat menyala tajam dan menguji ketahanan dompet warga. Di titik inilah klaim kecukupan stok bertemu dengan dinamika pasar yang sesungguhnya.

Data proyeksi neraca pangan nasional menunjukkan angka yang tebal. Sepanjang 2026, ketersediaan beras diperkirakan mencapai 47,21 juta ton. Jagung menyentuh 22,05 juta ton, kedelai 3,10 juta ton, daging ayam 5,72 juta ton, serta telur ayam ras 7,42 juta ton. Cabai rawit tercatat 968 ribu ton dan cabai besar 994 ribu ton. Secara hitungan makro, pasokan berada pada zona aman.

Namun pasar tidak hanya bergerak oleh angka produksi. Permintaan musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri selalu mendorong tekanan harga. Cabai rawit merah menjadi komoditas yang paling sensitif. Kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan bagaimana rantai distribusi dapat memanas ketika suplai tersendat atau ekspektasi publik meningkat.

Pemerintah merespons dengan menambah pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati, pusat distribusi hortikultura terbesar di ibu kota. Dalam rentang 19 hingga 24 Februari, intervensi cabai rawit merah mencapai 10,9 ton. Pada 23 Februari, total pasokan di pasar induk tersebut naik menjadi 16 ton, meningkat 45,45 persen dibanding hari sebelumnya. Tambahan suplai itu mendorong koreksi harga 22,22 persen hingga turun ke Rp70.000 per kilogram.

Langkah ini menunjukkan pola klasik ekonomi: ketika suplai naik, tekanan harga mereda. Namun stabilitas tidak hanya bergantung pada distribusi fisik. Persepsi publik juga memainkan peran penting. Isu kelangkaan sering kali memicu pembelian berlebih yang justru mempercepat kenaikan harga. Karena itu, pengawasan distribusi menjadi krusial.

Satgas pengawasan harga pangan memantau 1.329 titik yang meliputi pedagang, ritel modern, grosir, distributor, dan produsen. Tim ini menindak pelaku usaha yang mencoba menaikkan harga secara tidak wajar atau berspekulasi menjelang momentum konsumsi tinggi. Pemerintah berupaya mempersempit ruang permainan harga agar konsumen tidak menanggung beban berlebih.

Di sisi lain, stabilisasi diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah yang digelar 1.452 kali sepanjang Februari di 32 provinsi dan 287 kabupaten/kota. Sekitar 1.200 outlet menjual daging ayam ras seharga Rp40.000 per kilogram sesuai Harga Acuan Penjualan. Program ini bertujuan menjaga akses masyarakat terhadap protein hewani saat harga pasar bergerak naik.

Ketersediaan nasional memang menjadi fondasi penting. Namun ujian sebenarnya berlangsung di lapangan, ketika pedagang menyesuaikan harga dan pembeli mengambil keputusan. Jika distribusi lancar dan pengawasan konsisten, pasar akan kembali menemukan titik keseimbangannya sebelum takbir berkumandang.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pemerintah meyakini ketersediaan pangan nasional sangat cukup hingga setelah Lebaran. Ia menyatakan langkah antisipasi dan intervensi terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga serta mengimbau masyarakat berbelanja secara wajar tanpa panic buying. (***)/one