Sumsel  

Menunggu Kehadiran Dry Ice, Kabut Asap Kembali Menebal

Pinguntau.id – Harapan masyarakat Kota Palembang untuk menikmati udara bersih kembali terusik. Setelah sempat membaik, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung ibu kota Sumatera Selatan. Pada Selasa pagi (20/10/2026), kabut asap terlihat menebal hingga mengganggu jarak pandang.
Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat. Bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari, kabut asap juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Dalam bulan ini, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah yang terbakar, tetapi juga menjalar hingga ke Palembang melalui sebaran asap yang menyelimuti kawasan perkotaan.
Udara yang tercemar asap karhutla menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele. Masyarakat, khususnya anak-anak, lanjut usia, serta mereka yang memiliki gangguan pernapasan, menjadi kelompok yang rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.
Bahkan, munculnya kasus ISPA di tengah kondisi kabut asap semakin mempertegas pentingnya penanganan karhutla secara serius dan berkelanjutan.
Sebelumnya, kondisi jarak pandang di Palembang sempat menunjukkan perbaikan. Langit yang mulai cerah memberikan harapan bahwa kabut asap perlahan akan berkurang. Kondisi tersebut dikaitkan dengan upaya penanganan menggunakan dry ice yang diharapkan dapat membantu memperbaiki keadaan.
Namun, harapan itu kembali diuji. Kabut asap yang menebal pada Selasa pagi membuat masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan yang sama: udara yang tidak nyaman dan jarak pandang yang terganggu.
Kini, perhatian kembali tertuju pada kehadiran dry ice. Masyarakat berharap upaya tersebut dapat kembali dilakukan untuk membantu mengatasi kondisi kabut asap yang menyelimuti Palembang.
Meski demikian, efektivitas penggunaan dry ice dalam mengurangi kabut asap perlu didukung penjelasan teknis dan data kualitas udara yang terukur. Penanganan kabut asap juga membutuhkan langkah menyeluruh, mulai dari pemadaman titik api, pencegahan kebakaran berulang, hingga pemantauan kualitas udara secara berkala.
Jangan Tunggu Udara Semakin Memburuk
Di tengah kondisi yang kembali mengkhawatirkan, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan dampak kabut asap terhadap kesehatan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap menebal, menggunakan masker yang sesuai saat harus bepergian, serta menutup jendela ketika udara di luar tercemar dapat membantu mengurangi paparan asap.
Apabila mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan pernapasan yang semakin berat, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Kabut asap yang kembali menyelimuti Palembang menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla bukan sekadar urusan api yang membakar lahan. Dampaknya dapat meluas menjadi persoalan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat.
Kini, warga berharap kabut asap segera mereda. Namun, lebih dari sekadar menunggu kehadiran dry ice, yang dibutuhkan adalah penanganan karhutla yang konsisten agar masyarakat Sumatera Selatan tidak terus-menerus hidup dalam bayang-bayang asap setiap musim kebakaran tiba.(***)

Penulis: Foto Ilustrasi AIEditor: Red