Sumsel  

Lima Hari yang Menggetarkan Palembang: Saat Sejarah Turun ke Jalan dan Dijaga Bersama

Pingintau.id – Warga Palembang memilih cara yang berbeda dalam merawat sejarahnya. Untuk keempat kalinya, peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam (P5H5M) tidak digelar sebagai seremoni elitis, melainkan sebagai gerakan kolektif warga. Di Lawang Borotan, Jalan Bari, sejarah tidak sekadar dikenang, tetapi dihadirkan, dihidupkan, dan diperjuangkan bersama.

Meski secara historis pertempuran terjadi pada 1 Januari 1947, rangkaian peringatan P5H5M tahun ini dibuka dengan pendekatan reflektif dan spiritual.
Pada 1 Januari, ratib saman digelar di Gedung Kesenian Palembang, dan ini menegaskan bahwa perjuangan bangsa tak pernah lepas dari doa. Sehari kemudian, ratusan warga berkumpul di Simpang Lima DPRD Sumsel untuk membagikan 329
Telok Abang, bertepatan dengan 329 tahun berdirinya Benteng Kuto Besak—ikon kota sekaligus saksi bisu perlawanan rakyat Palembang.

Dalam peringatan ini, sejarah tidak dibekukan dalam monumen. Ia bergerak mengikuti denyut kota.

Puncak peringatan yang digelar di Lawang Borotan dihadiri langsung oleh Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV, Ketua Dewan Kesenian Palembang M. Nasir, Ketua LVRI Sumsel Ramses, Ketua Tim 11, serta sejumlah tokoh sejarah dan budaya lainnya.

Hadir pula Ketua Pelaksana P5H5M Vebri Al Lintani,

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sulaiman Amin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang M. Affan Prapanca, sejarawan Kemas Ari Panji, budayawan, seniman, hingga konten kreator Mang Dayat.

Yang membuat P5H5M berbeda adalah keterlibatan komunitas.

Komunitas Jeep Palembang, sepeda ontel, komunitas seni pertunjukan, hingga pelaku UMKM turut ambil bagian.

Dukungan juga datang dari pelaku usaha lokal, seperti Bakso Granat Mas Azis (BGMA), yang berkontribusi dalam kebutuhan logistik panitia. P5H5M benar-benar dijaga oleh warganya sendiri.

Peringatan diawali dengan pawai yang menyusuri rute perjuangan, menghadirkan deretan sepeda ontel dan mobil jeep yang menyita perhatian warga.

Menariknya, jeep yang ditumpangi Wali Kota Palembang bahkan sempat berganti sopir di tengah perjalanan—dari Ketua Jeep Palembang Iwan Darmawan ke Wali Kota Ratu Dewa—sebuah simbol kebersamaan yang cair tanpa sekat.

Alih-alih pidato formal semata, sejarah disampaikan melalui bahasa seni. Pameran foto dan benda antik perjuangan membuka ruang dialog visual dengan masa lalu.

Teatrikal dan pantomim dari Sanggar Blok E Art dan Palembang Pantomim menggambarkan suasana perang lewat ekspresi tubuh.

Kuntau, bela diri khas Palembang, tampil sebagai simbol ketahanan budaya, sementara korp musik Dinas Kebudayaan Kota Palembang mengalunkan nada-nada kebangsaan.

Narasi pertempuran dibacakan, menghidupkan kembali ingatan kolektif pada hari-hari ketika Palembang berdiri tegak melawan penjajahan. Nama Kapten A. Rivai kembali digaungkan—bukan sebagai mitos, melainkan sebagai pengingat bahwa kemerdekaan selalu memiliki harga.
Menariknya, P5H5M tumbuh dari swadaya masyarakat. Ketua Pelaksana Vebri Al Lintani menyebutkan, pada tahun pertama pelaksanaan hanya bermodal belasan juta rupiah.

Anggaran meningkat menjadi Rp22 juta pada tahun berikutnya, dan mendekati Rp30 juta pada 2024, di luar bantuan non-tunai berupa makanan, minuman, tenaga, seragam panitia, hingga ide kreatif.

Lebih dari 50 komunitas terlibat, bukan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran bahwa sejarah ini milik bersama.

Selama ini, narasi sejarah nasional kerap menempatkan Palembang di pinggiran, kalah populer dibanding Bandung Lautan Api, 10 November Surabaya, atau Palagan Ambarawa. Melalui P5H5M, kondisi itu mulai ditantang.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa menegaskan bahwa Pertempuran Lima Hari Lima Malam memiliki bobot sejarah yang setara dan layak diangkat ke tingkat nasional, bahkan internasional.

Senada, Sultan SMB IV menekankan pentingnya menghadirkan sejarah yang hidup dan relevan bagi generasi muda.
Kini, P5H5M tak lagi sekadar peringatan tahunan. Ia tengah diarahkan menjadi identitas kota sekaligus potensi wisata sejarah berbasis komunitas.
Pertempuran Lima Hari Lima Malam bukan hanya cerita masa lalu.

Ia adalah cermin keberanian, persatuan, dan daya hidup Palembang. Ketika sejarah dijaga oleh komunitas dan dirawat bersama, Palembang tidak sedang bernostalgia—melainkan menegaskan haknya untuk diingat dalam sejarah Indonesia.

Dari lima hari pertempuran itu, gema perlawanan terus hidup—di jalan, di panggung seni, dan di kesadaran warganya.(Nsr)