Sumsel  

Ketahanan Kayu Unglen: Saksi Bisu Sejarah di Masjid Agung Palembang

oplus_32

Pingintau.id – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Palembang, berdiri kokoh Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo, sebuah bangunan bersejarah yang tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga menyimpan kisah kejayaan masa lalu.

Di balik kemegahannya, tersimpan rahasia ketahanan yang telah bertahan lebih dari 270 tahun, yaitu penggunaan Kayu Unglen atau yang dikenal juga dengan sebutan Kayu Ulin.

Dibangun pada tahun 1738 hingga 1748 Masehi di masa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, kayu unglen dipilih sebagai bahan utama pembangunan karena keistimewaannya yang luar biasa. Kayu ini terkenal sangat keras, padat, tahan terhadap serangan rayap, tidak mudah lapuk meski terkena air terus-menerus, dan mampu bertahan selama ratusan tahun.

Sifat ini sangat cocok dengan kondisi lingkungan Palembang yang lembap dan dekat dengan aliran Sungai Musi, di mana bahan bangunan biasa cepat rusak.

Pada awal pembangunannya, kayu unglen digunakan untuk hampir seluruh struktur utama masjid, mulai dari tiang penyangga utama atau saka guru, rangka atap, lantai, hingga pintu dan jendela.

Kayu berwarna kemerahan kecokelatan ini didatangkan dari hutan-hutan pedalaman Sumatera Selatan dan Jambi, lalu diangkut melalui sungai dengan susah payah sebagai tanda kesungguhan kesultanan dalam mendirikan tempat suci yang megah dan awet.

Kayu ini bukan sekadar bahan bangunan, melainkan simbol kekuatan, kemakmuran, dan kemuliaan Kesultanan Palembang pada masa itu.

Hingga kini, meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi besar—terutama pada tahun 2000–2003 di mana struktur bangunan diperkuat dengan beton bertulang—masih banyak bagian kayu unglen asli yang tetap dipertahankan dan dipajang dengan indah. Kita masih bisa melihat keasliannya pada mimbar tempat khatib berkhotbah, kusen pintu utama yang kokoh, serta ornamen-ornamen ukiran yang menghiasi bagian dalam masjid.

Bahkan, sejumlah balok kayu tua disimpan khusus sebagai benda koleksi bersejarah, menjadi bukti nyata kecanggihan teknik bangunan masyarakat tempo dulu.

Keberadaan kayu unglen di Masjid Agung Palembang menjadi saksi bisu yang senyap namun berbicara banyak. Ia menceritakan tentang perjuangan pembangunannya, kesalehan masyarakatnya, serta kehebatan alam Sumatera Selatan yang melahirkan material luar biasa.

Kayu yang sama yang pernah menopang atap tempat para ulama dan rakyat beribadah berabad-abad silam, kini masih berdiri tegak menyambut jemaat masa kini, menyatukan masa lalu dan masa kini dalam keindahan arsitektur yang agung.

Masjid Agung Palembang dan kayu unglen di dalamnya adalah bukti bahwa karya yang dibangun dengan niat luhur dan bahan pilihan, akan terus dikenang dan bermanfaat sepanjang masa.(berbagai sumber)