GANGGUAN pendengaran anak sering tidak disadari orang tua karena gejalanya tampak sepele. Anak terlihat tidak fokus, sulit merespons, atau lambat bicara, padahal masalahnya bisa berasal dari fungsi pendengaran yang terganggu sejak dini.
Misalnya musik di earphone terasa nikmat. Game makin seru kalau volumenya mentok kanan. Nongkrong di kafe bising pun dianggap biasa. Tapi siapa sangka, di balik kebiasaan itu, telinga pelan-pelan bisa menyerah tanpa pamit.
Itulah alarm yang dibunyikan Kementerian Kesehatan RI saat memperingati Hari Pendengaran Sedunia 2026 di Jakarta. Mereka tidak sekadar mengingatkan, tapi membawa data yang bikin kita mengernyit.
Bayangkan, sampai 31 Desember 2025, dari 18.697.124 orang yang ikut skrining pendengaran dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebanyak 337.056 orang atau 1,8 persen terdeteksi mengalami gangguan pendengaran. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu suara yang melemah, percakapan yang terlewat, dan masa depan yang bisa terganggu.
Masuk 1 Maret 2026, dari 4.128.849 orang yang menjalani skrining, 51.215 orang atau 1,24 persen kembali terdeteksi mengalami gangguan pendengaran. Artinya, masalah ini masih nyata dan tidak pilih umur.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, dilaman resmi kemkes menegaskan banyak orang tua sering salah paham. Mereka mengira anaknya malas belajar atau tidak fokus. Padahal, bisa jadi si kecil tidak mendengar instruksi guru dengan jelas. Telinga yang terganggu membuat bahasa terlambat berkembang, pelajaran terasa berat, dan interaksi sosial ikut tersendat.
Pendengaran memegang peran penting sejak bayi lahir. Anak belajar bicara karena ia mendengar. Anak percaya diri karena ia bisa merespons. Kalau pendengaran terganggu, tumbuh kembang pun ikut terhambat. Karena itu, Kemenkes memasukkan pemeriksaan pendengaran ke dalam Program CKG untuk semua siklus usia, dari bayi baru lahir sampai lanjut usia.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Jangan tunggu gejala berat. Terapkan deteksi dini.
Pertama, lakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala, terutama pada anak. Jangan tunggu nilai sekolah turun atau guru mengeluh. Lebih cepat tahu, lebih cepat tangani.
Kedua, terapkan prinsip 60:60. Batasi volume earphone maksimal 60 persen dan gunakan tidak lebih dari 60 menit tanpa jeda. Aturan ini terlihat sederhana, tapi efeknya besar. Telinga kita bukan speaker konser yang tahan digedor tiap hari.
Ketiga, waspadai lingkungan bising. Paparan suara keras di jalan, tempat hiburan, atau bahkan di rumah dengan televisi yang menyala kencang terus-menerus bisa merusak sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam. Sekali rusak, sel itu tidak tumbuh lagi.
Perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Indonesia (PERHATI-KL), Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, mengingatkan Indonesia sudah berkomitmen menurunkan angka gangguan pendengaran hingga 50 persen pada 2030.
Target itu tidak mungkin tercapai kalau masyarakat masih menganggap remeh dengungan kecil di telinga atau kebiasaan menaikkan volume sampai mentok.
Ia menyebut penyebab gangguan pendengaran sangat beragam. Infeksi telinga, kelainan bawaan sejak lahir, paparan bising, hingga penggunaan perangkat audio pribadi secara berlebihan menjadi faktor utama. Semua faktor itu bisa kita kendalikan, kecuali kalau kita memilih abai.
Gangguan pendengaran pada anak sering tidak terlihat. Tidak ada luka, tidak ada darah. Tapi dampaknya nyata. Anak sulit memahami pelajaran, enggan berbicara, bahkan menarik diri dari pergaulan. Dalam jangka panjang, produktivitas saat dewasa ikut terdampak.
Kita sering rajin cek gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Tapi kita jarang bertanya, “Sudahkah saya cek pendengaran?” Padahal, kualitas hidup sangat bergantung pada kemampuan mendengar dengan baik.
Menjaga telinga sebenarnya tidak mahal. Kita hanya perlu disiplin, peduli, dan mau memeriksa diri. Jangan tunggu suara dunia terdengar sayup baru panik mencari bantuan.
Karena ketika pendengaran melemah, dunia ikut mengecil. Dan sebelum itu terjadi, kita masih punya pilihan: dengar peringatannya sekarang, atau menyesal kemudian.(***)














