“Angkak” bisa jadi solusi obat DBD, cara ini dilakukan BRIN

Pingintau.id, Seringkali masyarakat menggunakan produk beras fermentasi (angkak), sebagai obat alternatif dalam terapi penyakit Demam Berdarah Dengue. Hal itu berguna untuk meningkatkan jumlah trombosit dalam darah, yang mengalami penurunan. Sehingga ketersediaan produk beras fermentasi yang bebas dari kandungan sitrinin, bersifat nefrotoksik, hepatoksik dan karsinogenik, sebagai kebutuhan yang sangat mendesak.

Terkait hal tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan teknologi invensi, dengan menggandeng CV. Arrohmah, untuk menandatangani dua perjanjian kerja sama (PKS). Penandatanganan langsung ditandatangani oleh Hendrian sebagai Plt. Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, dan Dwi Endah sebagai Direktur Utama CV. Arrohmah, di Jakarta, Kamis (18/8).

Kedua PKS tersebut, yaitu lisensi Proses Ko-Kultur megaterium dengan Monacus Purpureus untuk menghasilkan produk fermentasi beras rendah sitrinin, dan Metode pembuatan Starter Monacus Purpureus untuk menghasailkan produk fermentasi tanpa citrinin. “Hilirisasi invensi menjadi inovasi, harus diterima industri dengan melalui serangkaian uji, butuh waktu dan keseriusan,” ujar Hendrian dalam acara penandatangan dua invensi lisensi.

Ia sangat mengapresiasi para inventor dari mikrobiologi terapan yang sangat produktif, sehingga membuat riset dan inovasi BRIN lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurut Hendrian ada tiga hal yang harus dipenuhi dalam proses hilirisasi, yaitu invensinya harus well scientific proven. Kemudian, harus mengikuti serangkaian uji, dan persyaratan yang ditetapkan oleh regulasi. Selanjutnya, invensi juga harus dapat diterima oleh pelaku usaha atau industri. “Sebaik apapun hasil invensi, bila tidak masuk dalam keekonomian akan mubazir,” tambahnya.

Ahmad Fathoni Kepala Pusat Mikrobiologi Terapan BRIN mengatakan terimakasih riset BRIN dimanfaatkan oleh mitra industri CV Arrohmah, dua invensi tim periset mikrobiologi terapan akan segera ditandatangani.Tugas utama kami, adalah membuat invensi yang dapat memberikan pengaruh besar, untuk masyarakat luas.

“Berbagai teknologi BRIN, harus dapat memberikan hasil riset, yang bermanfaat besar. Periset butuh masukan dari mitra, untuk dapat dijadikan tantangan riset. Periset harus terdepan menjawab tantangan,” ujarnya.

Dwi Endah merasa sangat terbantu dan berharap, kehadiran teknologi BRIN bisa meningkatkan produktiftas CV. Arrohmah. “Endemi demam berdarah di Jember tahun 2015, kami menemukan racikan yang dapat membuat penderita menaikan trombosit, ramuannya berupa monasco, atas sepengetahuan pihak medis, dapat mengakhiri endemi,” kenang Dwi.

Berkat pertemuan dan bantuan seorang periset BRIN saat itu, lanjutnya, bahan dasar diteliti dan diperbaiki. Dengan penambahan monacus purpureus hasil riset BRIN, dan hasilnya jauh lebih baik. “Sebagai mitra BRIN, kami menginginkan ada upaya saling menguntungkan, yang berdampak pada nilai ekonomi. Ke depan, semoga BRIN bisa menjadi media, dalam menggaungkan dan menginformasikan produk-produk dari masyarakat, yang memanfaatkan teknologi BRIN,” harapnya.

Uraian singkat terkait dengan kedua invensi ini, yaitu:  Teknologi 1, berupa Invensi Proses Kokultur Bacillus megaterium Dengan Monascus purpureus, Untuk Menghasilkan Produk Fermentasi Beras Rendah Sitrinin. Angkak masih digunakan sebagai obat tradisional dan pewarna makanan dan minuman di Asia, dan komunitas Cina, di Amerika Utara. Pigmen merah angkak, juga menjadi alternatif daripada penggunaan nitrit/nitrat dalam pengawetan daging (Fink-Gremmels et al.1991).

Invensi ini bertujuan untuk menyedikan bahan baku industri hasil fermentasi monascus, yang tidak mengandung sitrinin. Invensi ini menggunakan metode kokultur bacillus magaterium, dengan monascus purpureus, dalam pembuatan beras fermentasi untuk menghasilkan hasil fermentasi yang bebas sitrinin. Keunggulan invensi ini, mampu menyediakan produk fermentasi yang tidak mengandung sitrinin, dan aman bagi kesehatan. Dapat dimanfaatkan pada industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman.

Selanjutnya, Teknologi 2, Invensi Starter Monascus purpureus Untuk Menghasilkan Produk Fermentasi Tanpa Sitrinin. Invensi ini berkaitan dengan suatu starter Monascus purpureus, untuk menghasilkan produk fermentasi/beras fermentasi tanpa sitrinin atau relatif rendah yaitu kurang dari 0,3 µg/g.[***]