Anak Terancam Campak? Respons Cepat & Imunisasi Krusial

foto : kemkes

MESKI cakupan imunisasi campak-rubella di Indonesia tinggi secara nasional, masih ada anak-anak di desa dan wilayah terpencil yang terancam campak. Penyakit ini sangat menular, dan keterlambatan deteksi atau imunisasi dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB).

Oleh sebab itu, respons cepat tenaga kesehatan dan imunisasi lengkap menjadi kunci menyelamatkan nyawa anak-anak.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen). Hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Dari total tersebut, terjadi 21 KLB suspek dan 13 KLB konfirmasi yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, menekankan  campak menular dengan sangat cepat.

“Setiap kenaikan kasus harus segera direspons melalui surveilans kuat dan pelaporan real-time. Keterlambatan satu hari bisa berarti ratusan anak terpapar,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Mulya Rahma Karyanti, konsultan penyakit infeksi anak di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, menjelaskan  ketimpangan cakupan imunisasi menjadi penyebab utama munculnya KLB.

“Secara nasional capaian imunisasi campak-rubella sudah tinggi, tetapi kasus tetap muncul di kabupaten dan desa tertentu. Anak-anak yang belum lengkap imunisasi di wilayah ini menjadi kelompok paling rentan,” jelasnya.

Fenomena ini menegaskan dua hal, pertama, angka nasional yang tinggi tidak menjamin perlindungan di level lokal, kedua, respons cepat menjadi kunci untuk menahan penyebaran. Setiap kasus suspek harus diinvestigasi maksimal 24 jam setelah penemuan, dan pelaporan dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) secara real-time. Tanpa langkah ini, penularan bisa terjadi dalam hitungan hari.

Mengapa respons cepat sangat penting? Campak menular hingga 90 persen pada anak yang belum imunisasi.

Artinya, satu anak terinfeksi dapat menularkan virus ke hampir semua teman sebayanya, terutama di sekolah, posyandu, atau komunitas padat lainnya. Desa yang menunda investigasi kasus sering menghadapi KLB lebih luas, dan terkadang harus menutup fasilitas pendidikan sementara untuk menghentikan penularan.

Selain itu, dinamika campak juga bersifat global. Indonesia menerima notifikasi International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada warga negara Australia yang sempat tinggal sementara di Indonesia.

Semua kasus sembuh, tetapi ini menjadi pengingat bahwa penyakit menular lintas negara bisa mengintai kapan saja, sehingga koordinasi lintas sektor dan lintas negara tetap penting.

Bagi orang tua, pastikan anak menerima imunisasi MR lengkap, periksa kartu imunisasi secara rutin, dan laporkan gejala demam atau ruam segera ke tenaga kesehatan.

Di sisi pemerintah, memperkuat surveilans dan respons cepat tetap menjadi prioritas, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah.

Meski angka nasional terlihat aman, campak menunggu celah dan hanya respons cepat serta imunisasi lengkap yang bisa menutup celah itu. Desa atau kota yang cepat tanggap akan menyelamatkan banyak nyawa, sementara yang lambat berisiko menghadapi KLB lebih besar.

Dengan kesadaran, imunisasi, dan respons cepat, Indonesia bisa menekan penyebaran campak hingga nol tidak hanya di kota besar, tapi juga di desa-desa terpencil. (***)one/ril