BANK Indonesia resmi meluncurkan PIDI talenta digital Indonesia, sebuah ekosistem inovasi yang memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan ide menjadi solusi nyata bagi ekonomi digital nasional.
Program ini digarap bersama OJK, ASPI, AFTECH, APUVINDO, dan LPPI, menargetkan talenta muda untuk mempercepat implementasi solusi digital yang siap digunakan industri sekaligus memperluas inklusi keuangan.
PIDI bukan sekadar pelatihan. Inisiatif ini membentuk ekosistem inovasi yang menyatukan talenta, regulator, industri, dan investor. “Transformasi digital bukan soal teknologi saja, tapi juga kesiapan SDM untuk mengubah ide menjadi solusi nyata. Melalui PIDI, talenta muda bisa berinovasi menjawab kebutuhan industri digital yang semakin kompleks,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam rilis bi dilaman resminya belum lama ini.
Program ini menampilkan dua jalur utama, Digdaya dan Hackathon. Digdaya (Digital Talenta Berdaya dan Berkarya) menekankan penguatan kapasitas talenta muda melalui pelatihan terstruktur dan sertifikasi berjenjang, sehingga kompetensi profesional mereka meningkat. Sementara Hackathon berperan sebagai laboratorium inovasi nasional, tempat peserta menguji ide, membangun prototipe, dan memvalidasi solusi berbasis kebutuhan riil industri.
Peserta tidak hanya bersaing, tetapi juga mendapat mentoring profesional, business matching, dan job fair. Hackathon fokus pada tiga problem statement utama:
Penguatan ketahanan dan inovasi keuangan.
Peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, dan penciptaan lapangan kerja.
Percepatan layanan publik, ekonomi kreatif, dan ekspor jasa digital.
Yang menarik, PIDI memberi jalur jelas bagi peserta untuk mengubah ide menjadi prototipe nyata. Tim terpilih akan memvisualisasikan ide inovasinya melalui video proof of concept, lalu mengembangkannya lebih lanjut dengan pendampingan mentor.
Ide terbaik akan dipertemukan langsung dengan industri dan investor sebagai off-taker, sehingga solusi tidak berhenti di papan tulis, tapi siap diimplementasikan dan berskala nasional.
PIDI juga menjadi jawaban terhadap kritik umum program talenta digital, yang kerap berhenti di level konsep. Dengan integrasi langsung antara talenta, industri, dan investor, setiap inovasi kini memiliki jalur yang jelas untuk diuji, divalidasi, dan dikembangkan menjadi prototipe yang siap diterapkan secara nyata.
Pendekatan ini memperkuat kolaborasi lintas sektor sekaligus memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi digital, PIDI menjadi arena pembelajaran dan eksperimen bagi talenta muda. Di tengah tantangan globalisasi, keterampilan digital menjadi kunci daya saing.
Program ini memberi ruang bagi generasi muda Indonesia untuk beradaptasi, berinovasi, dan bersaing secara global, selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.
“Kolaborasi ini bukan sekadar simbolis. Talenta muda, regulator, industri, dan investor duduk dalam satu ekosistem, saling tukar ide, dan menguji solusi yang siap diterapkan,” ujar Perry Warjiyo.
Dengan ekosistem terintegrasi, BI berharap PIDI dapat memperluas akses keuangan, meningkatkan efisiensi, dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara nyata.
PIDI resmi membuka pendaftaran Digdaya x Hackathon 2026 dari 23 Februari hingga 27 Maret 2026. Peserta terpilih akan menjalani pelatihan berbasis kebutuhan industri, hingga akhirnya ide mereka diwujudkan dalam prototipe siap dibawa ke pasar.
Inisiatif ini menegaskan komitmen BI dalam membangun fondasi ekonomi digital yang kuat, aman, dan berdaya saing global. (***)














