PINGINTAU.ID, KOTA BIMA–Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar-Mat) Kota Bima, A. Rafik, S.T., mengimbau seluruh masyarakat Kota Bima untuk meningkatkan kewaspadaan dan bersikap hati-hati saat membakar lahan pertanian, ladang, maupun sampah di sekitar permukiman warga.
Kondisi musim kemarau dan suhu udara yang terik menjadi pemicu utama cepatnya persebaran api yang dapat berujung pada bencana kebakaran.
“Kondisi kemarau dan suhu udara yang cukup panas seperti sekarang ini bisa memicu terjadinya kebakaran, terutama kebakaran lahan akibat aktivitas membakar sampah yang tidak diawasi. Kami mengimbau warga untuk tetap mawas diri dan waspada saat membakar sampah atau lahan di dekat permukiman,” imbau A. Rafik saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu 28 Oktober 2026.
A. Rafik membenarkan bahwa intensitas kebakaran di Kota Bima bulan Oktober 2026 menunjukkan tren peningkatan dan terjadi secara beruntun. Meski demikian, ia mengapresiasi kesiapsiagaan jajarannya di lapangan yang selalu merespons cepat setiap adanya laporan dari masyarakat.
“Alhamdulillah, petugas pemadam kami sangat responsif dan senantiasa bergerak cepat menuju lokasi kejadian,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa pemicu umum kebakaran yang kerap diabaikan masyarakat. Sering kali sampah dibakar lalu ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan. Dalam kondisi angin kering, kobaran api dari sampah dapat menyebar luas hingga mengancam perumahan warga. Selain itu, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area rerumputan atau dedaunan kering juga kerap menjadi awal terjadinya kebakaran lahan.
“Jadi kebakaran tidak hanya disebabkan oleh api dapur atau korsleting listrik. Yang sangat penting kewaspadaan warga saat membakar lahan dan sampah. Bahkan untuk sampah daun kering, kami menyarankan agar tidak dibakar, melainkan ditanam atau dijadikan pupuk untuk menghindari potensi kebakaran,” terangnya.
Berdasarkan data Dinas Damkar-Mat Kota Bima, sejak Januari hingga Oktober 2026, tercatat hampir 50 kasus kebakaran telah terjadi di wilayah Kota Bima, dengan lonjakan kasus yang lumayan signifikan pada bulan Oktober.
Di samping penanganan yang terus dilancarkan, A. Rafik tidak menampik bahwa petugasnya kerap menghadapi kendala operasional di lapangan. Kendala utama tersebut berawal dari kurang detailnya informasi yang disampaikan masyarakat saat melaporkan kejadian kebakaran.
“Informasi pelaporan terkait situasi dan kondisi lokasi kejadian sering kurang lengkap. Semestinya dilaporkan juga bagaimana kondisi akses jalan menuju lokasi, sehingga sejak awal kami bisa menyiapkan strategi penanganan dan menentukan tipe mobil pemadam mana yang sesuai untuk diturunkan,” jelajah A. Rafik.
Ia mencontohkan, pernah terjadi situasi di mana armada berukuran besar diturunkan, namun sesampainya di lokasi, akses masuk rupanya hanya cukup untuk armada pemadam kecil. Hal ini dinilai cukup menghambat respons penanganan.
“Oleh karena itu, kami berharap saat warga melapor, selain meminta petugas bergerak cepat, cantumkan juga informasi mengenai situasi lingkungan dan jenis kebakaran yang terjadi. Penanganan kebakaran listrik, minyak, atau lahan itu berbeda-beda,” jelasnya.
Terkait kesiapan armada dan Bahan Bakar Minyak (BBM), A. Rafik memastikan bahwa kebutuhan operasional penanganan kebakaran tetap terpenuhi dengan baik, meskipun pihaknya tetap mengusulkan penambahan anggaran pendukung untuk optimalisasi pelayanan Damkar-Mat ke depan.
“Intinya, kami sangat berharap warga Kota Bima meningkatkan kewaspadaan. Perhatikan pembakaran sampah, api dapur, hingga instalasi listrik rumah tangga agar risiko kebakaran dapat kita cegah sedini mungkin,” (Suhairy)













