Pingintau.id – Dari kejauhan, kemegahan Masjid Al-Abduh sudah mencuri perhatian siapa saja yang melintas di Jalan Senama, Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang. Berdiri anggun dengan balutan putih dan sentuhan emas, masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah—ia adalah kisah tentang cinta, bakti, dan janji yang ditunaikan.
Sabtu, 21 Desember 2024 menjadi hari bersejarah. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, meresmikan langsung masjid megah tersebut, disaksikan para pejabat dari pusat hingga daerah. Namun di balik seremoni itu, tersimpan cerita yang jauh lebih menyentuh daripada sekadar peresmian.
Amanah yang Menjadi Nyata
Masjid ini berdiri di atas lahan yang dulunya adalah pabrik penggilingan padi milik almarhum Mohammad Abduh. Sebelum wafat pada 2012, ia meninggalkan pesan sederhana namun penuh makna: jadikan tanah itu sebagai masjid.
Pesan itu tak pernah pudar. Delapan tahun kemudian, kelima anaknya—termasuk Mohammad Iqbal—bersama sang ibu Siti Muslaini, mulai mewujudkannya. Batu demi batu disusun, doa demi doa dipanjatkan, hingga akhirnya masjid ini berdiri kokoh sebagai simbol bakti kepada orang tua.
“Ini bukan sekadar bangunan, ini cinta kami untuk ayah,” ujar Iqbal.
Kubah yang Bercerita
Ada satu hal yang membuat Masjid Al-Abduh begitu istimewa: filosofi arsitekturnya. Satu kubah besar di tengah dikelilingi lima kubah kecil—melambangkan lima anak yang menaungi dan menjaga orang tuanya.
Simbol sederhana, namun begitu dalam. Ia berbicara tentang keluarga, tentang kasih sayang yang tak lekang oleh waktu.
Masjid, Bukan Sekadar Tempat Sujud
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa masjid harus kembali pada esensinya—seperti di masa Rasulullah: menjadi pusat peradaban.
“Masjid harus menjadi tempat menghimpun kebaikan, bukan perpecahan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar masjid ini tidak hanya hidup saat waktu salat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, kegiatan sosial, hingga penggerak ekonomi umat.
Ikon Baru, Harapan Baru
Dengan halaman luas, fasilitas modern, dan desain yang memukau, Masjid Al-Abduh diproyeksikan menjadi ikon baru di Palembang, khususnya di Sematang Borang. Lebih dari itu, ia adalah simbol bahwa cinta kepada orang tua bisa diwujudkan dalam bentuk yang abadi.
Di setiap sudutnya, masjid ini seakan berbisik:
bahwa amal jariyah tak pernah berhenti mengalir,
bahwa cinta sejati tak pernah benar-benar pergi.
Dan di bawah kubahnya yang megah, harapan itu kini hidup—untuk masyarakat, untuk umat, dan untuk masa depan yang lebih baik.(Berbagai Sumber)















