Sumsel  

Sumsel Bergerak, Belida & Zero Lubang, Tapi Masih Ada PR

foto : ist

SUMATERA Selatan bergerak nyata melalui Belida & Zero Lubang, program yang membersihkan lingkungan dan menutup lubang jalan menjelang mudik Lebaran. Jalan mulai mulus, lingkungan lebih bersih, tetapi beberapa tantangan masih tersisa agar seluruh wilayah benar-benar siap menyambut pemudik.

Gubernur Herman Deru memimpin Apel Program Belida di Terminal Timbangan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (28/2/2026). Dari tumpukan sampah yang tertata rapi hingga penutupan lubang jalan secara simbolis, terlihat jelas sinergi antara pemerintah, aparat kepolisian, dan warga.

Program Belida adalah singkatan dari Bersih Lingkungan dan Asri  bukan sekadar gerakan bersih-bersih biasa. Di balik nama itu, ada konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Sampah yang biasanya dianggap limbah kini bisa dimanfaatkan kembali atau diolah menjadi nilai ekonomi. Warga tampak antusias sebagian menata sampah, sebagian lagi menandai jalan yang rusak. Herman Deru menekankan,  bukan hanya soal jalan mulus, tapi juga lingkungan asri. Semua pihak bergerak agar Sumsel siap menyambut Lebaran.

Yang membuat Belida berbeda dari gerakan kebersihan rutin adalah skala dan integrasi.

Program ini berjalan serentak di 17 kabupaten/kota se-Sumsel, menyesuaikan kekhasan tiap daerah. Ikan belida dijadikan ikon lokal untuk mengingatkan warga soal kelestarian lingkungan dan kearifan lokal.

Sinergi antara warga, aparat, dan pemerintah tidak hanya terlihat saat apel, tapi nyata di lapangan: gotong royong menata sampah, menutup lubang jalan, dan membersihkan drainase.

Meski begitu, tantangan tetap ada, beberapa titik jalan masih menunjukkan kerusakan, dan tidak semua lokasi sampah tertata rapi karena keterbatasan jangkauan. Oleh sebab itu gerakan sosial seperti Belida akan kehilangan dampak jika hanya menjadi simbol atau dokumentasi foto.

Untuk membuatnya berkelanjutan, pendekatan lebih mendalam diperlukan.

Solusi sederhana, tapi strategis bisa dimulai dari pemetaan titik kritis, seperti  sampah yang sering menumpuk dan jalan yang rawan rusak. Pemerintah daerah bisa menggandeng RT/RW setempat untuk monitoring rutin, sehingga setiap titik masalah cepat tertangani.

Penanganan lubang jalan sebaiknya tidak hanya fokus pada satu atau dua lokasi simbolis sebelum mudik, tapi ada perawatan berkelanjutan sepanjang tahun.

Edukasi masyarakat

Selain itu, edukasi masyarakat menjadi kunci, pasalnya masih banyak warga awam yang belum benar-benar memahami prinsip 3R secara praktis.

Jika sampah tidak dipilah sejak awal, potensi diolah menjadi kompos, bahan kerajinan, atau pakan ternak hilang. Di sinilah kreativitas bisa masuk untuk melibatkan sekolah, komunitas lokal, hingga UMKM untuk mengubah sampah menjadi nilai ekonomi, sambil mendukung lingkungan bersih.

Keberhasilan Program Belida bisa diukur dari dampak nyata, warga lebih peduli lingkungan, jalan lebih aman, dan suasana terminal serta jalan utama lebih nyaman.

Meski demikian, beberapa warga masih menemukan lubang jalan di lokasi tertentu, menunjukkan perlunya tindak lanjut berkelanjutan.

Jika program ini dikombinasikan dengan jadwal rutin gotong royong, penyediaan tempat sampah yang memadai, dan pemantauan jalan, Sumsel bisa menjadi contoh daerah lain dalam menggabungkan lingkungan bersih dan jalan aman.

Manfaat langsung juga mulai terasa. Pedagang kaki lima, tukang ojek, dan pemudik merasakan perjalanan lebih lancar, sampah berkurang, dan suasana lebih bersih. Ini membuktikan bahwa kebersihan dan keamanan jalan bukan sekadar estetika, tapi kenyamanan hidup sehari-hari.

Akhirnya, Belida itu bukan nantinya sekadar apel atau penutupan lubang jalan menjelang mudik. Balida adalah gerakan sosial yang bisa memperbaiki kualitas hidup masyarakat, sambil menanamkan nilai lingkungan dan keselamatan.

Tantangan yang masih tersisa, seperti lubang jalan dan sampah yang belum tertangani optimal, bisa menjadi pendorong inovasi, monitoring rutin, edukasi warga, dan kolaborasi berkelanjutan. Dengan begitu, Sumsel tidak hanya bersih dan aman saat Lebaran, tapi juga membangun kebiasaan lingkungan sehat sepanjang tahun. (***)