INDONESIA memperkuat dukungan nyata bagi perdamaian Palestina dengan mengirim pasukan ke International Stabilization Force (ISF). Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, saat bertemu Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina, Dr. Varsen Aghabekian Shahin, di sela High-Level Segment Sidang ke-61 Dewan HAM PBB, belum lama ini.
Menurut Menlu Sugiono, kontingen Indonesia akan fokus melindungi warga sipil dan memberikan dukungan kemanusiaan.
“Setiap langkah kami sejalan dengan prinsip hukum internasional dan kepentingan rakyat Palestina,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi kesempatan strategis bagi kedua negara untuk meninjau perkembangan proses perdamaian, memperkuat kerja sama bilateral, dan membahas pembentukan Liaison Office Palestina untuk memperkuat koordinasi dengan Board of Peace.
Selain itu, Indonesia juga menyiapkan Sesi Khusus mengenai Palestina pada 15 April 2026 di Jakarta, di sela rangkaian KTT D-8.
Menlu Palestina Dr. Shahin mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Dia menekankan pentingnya kontribusi nyata dari negara-negara sahabat, termasuk dukungan kemanusiaan dan diplomasi multilateral, untuk menjaga perdamaian yang berkelanjutan.
Kontingen Indonesia akan beroperasi dengan mandat kemanusiaan, termasuk distribusi bantuan, perlindungan warga sipil, dan dukungan logistik bagi misi ISF. Langkah ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya berbicara di forum internasional, tetapi juga mengeksekusi aksi nyata di lapangan.
Langkah konkret ini sekaligus mencerminkan strategi Indonesia dalam menyeimbangkan politik dan kemanusiaan. Dengan memastikan transisi politik Palestina berjalan sesuai prinsip hukum internasional, Indonesia ikut mendorong proses politik kredibel menuju Solusi Dua Negara.
Menlu Sugiono menambahkan, “Indonesia akan memanfaatkan berbagai forum internasional untuk menggalang dukungan global bagi Palestina. Kami berharap kunjungan Menlu Palestina ke Jakarta bisa segera terlaksana. Solidaritas internasional harus terus diperkuat melalui aksi nyata dan koordinasi strategis.”
Mengutip pernyataan resmi yang dipublikasikan di laman resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.Dari perspektif reflektif, pertemuan ini mengingatkan perdamaian membutuhkan kombinasi diplomasi, aksi lapangan, dan kepedulian kemanusiaan.
Indonesia membuktikan peran aktifnya, bukan sekadar pernyataan politik. Pengiriman pasukan ke ISF dan rencana Sesi Khusus Palestina menunjukkan integrasi nyata antara diplomasi, kemanusiaan, dan kepemimpinan regional. (***)














