Risiko Iklim Jadi Peluang, Bank RI Siap Raup Untung

foto : ilustrasi/ OJK

RESIKO iklim yang dulu dianggap ancaman serius kini berubah menjadi peluang ekonomi hijau. Bank RI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memanfaatkan alat ilmiah terbaru untuk memetakan risiko sekaligus mengidentifikasi peluang investasi hijau, memastikan sektor perbankan tidak hanya tangguh, tetapi juga siap meraih keuntungan dari transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, memimpin inisiatif ini. Bersama industri perbankan nasional, mereka menekankan bahwa mitigasi risiko iklim bukan sekadar kewajiban, tetapi kesempatan untuk mengoptimalkan alokasi modal pada sektor hijau.

Dukungan internasional hadir dari Pemerintah Inggris melalui UK Minister for the Indo-Pacific, Seema Malhotra, serta Kedutaan Besar Inggris, yang membantu membentuk Strategic Partnership Working Group on Climate Financing.

Dalam The 2nd Indonesia Climate Banking Forum (ICBF), OJK meluncurkan dua alat strategis, pertama Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) untuk memprediksi dampak risiko iklim terhadap ketahanan bank jangka menengah hingga panjang, menyediakan data ilmiah untuk strategi transisi hijau.

Kedua, Indonesia Banking Sustainability Maturity Report (SMART) gunanya menilai kematangan bank dalam menerapkan praktik keuangan berkelanjutan dan menyusun roadmap transisi hijau secara terukur.

CBRA dan SMART memungkinkan bank melihat sisi risiko dan peluang di sektor energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, hingga infrastruktur rendah karbon. Dengan data ini, bank bisa memindahkan pendanaan dari sektor berisiko tinggi ke proyek yang menguntungkan secara finansial dan ramah lingkungan.

ICBF kedua digelar Kamis, 27 Februari 2026, satu tahun setelah forum perdana 2024 yang meluncurkan Climate Risk Management & Scenario Analysis (CRMS). Forum ini hadir di saat tekanan global meningkat terhadap kesiapan sektor keuangan menghadapi perubahan iklim, menjadikannya momentum penting bagi Indonesia.

Forum berlangsung di Jakarta, pusat keuangan dan diplomasi Indonesia. Kota ini menjadi simbol koordinasi antara regulator, bank, dan mitra internasional untuk mendorong pembiayaan hijau. Jakarta juga mencerminkan posisi Indonesia sebagai emerging market yang proaktif menghadapi risiko iklim sambil membuka peluang investasi hijau.

Menurut Dian Ediana Rae, rasio CAR sektor perbankan tetap di atas regulasi, menandakan modal bank cukup kuat menghadapi tekanan iklim. Dengan CBRA dan SMART, bank dapat mengalihkan modal dari sektor berisiko tinggi ke proyek hijau yang menjanjikan keuntungan jangka panjang sekaligus mendukung target net-zero Indonesia.

Seema Malhotra menekankan, ketahanan finansial bukan sekadar mitigasi risiko, tapi kemampuan menangkap peluang ekonomi hijau. Bank yang proaktif bisa mengubah risiko iklim menjadi investasi strategis, membuka peluang pendanaan baru, dan menciptakan lapangan kerja hijau.

OJK dan Inggris membentuk Strategic Partnership Working Group, yang bertugas memobilisasi pendanaan untuk proyek hijau. CBRA menyediakan analisis forward-looking berbasis data ilmiah, sementara SMART menilai tingkat kesiapan bank dalam praktik keberlanjutan.

Kombinasi ini memungkinkan setiap keputusan pembiayaan didasarkan pada data, strategi jangka panjang, dan potensi keuntungan nyata.

Dengan mekanisme ini, Bank RI tidak hanya tangguh menghadapi risiko iklim, tetapi juga siap menjadi pelopor ekonomi hijau, membuka jalan bagi masa depan finansial berkelanjutan Indonesia. Forum ICBF dijadwalkan menjadi agenda berkala untuk memantau transisi, membangun kepercayaan pasar, dan memperkuat kolaborasi internasional. (***)/one/ril