PEMBANGUNAN overpass di Bayung Lencir kini resmi dimulai, tapi warga menegaskan manfaat nyata proyek ini harus terasa setiap hari.
Proyek yang dirancang untuk memisahkan arus truk tambang dari jalan umum diharapkan mengurangi kemacetan panjang dan debu yang selama ini menutupi rumah, kebun sawit, dan aktivitas sehari-hari. Meski terlihat menjanjikan di rilis resmi, warga ingin memastikan bahwa kerja nyata tidak berhenti di seremoni atau headline media.
Bupati Musi Banyuasin, H.M. Toha Tohet, menegaskan kekayaan alam boleh dikelola, tapi masyarakat tidak boleh ‘makan debu’. Gubernur Sumsel, H. Herman Deru, hadir memberi apresiasi atas gerak cepat Pemkab Muba, Rabu (25/2/2026).
Semua terdengar rapi seperti ditulis di rilis resmi, tapi warga tahu bahwa bukti perubahan yang benar-benar terasa tidak cukup hanya di hari peresmian.
Seorang petani sawit menatap kebunnya sambil tersenyum tipis. “Dulu tiap truk lewat, debu masuk ke sawit dan rumah. Sekarang lega, tapi kami ingin pemerintah tidak berhenti di seremoni. Yang kami butuhkan adalah jalan aman, debu berkurang, dan truk tertib setiap hari,” ujarnya.
Pesan warga jelas, overpass harus memberi dampak nyata sehari-hari, bukan sekadar terlihat megah di media.
Warga berharap aktivitas berkebun dan transportasi sehari-hari tidak lagi terganggu. Mereka ingin perusahaan menaati aturan ODOL dan standar keselamatan, serta diberi ruang untuk ikut mengawasi. Tanpa itu, overpass bisa menjadi simbol proyek besar di atas kertas, tapi warga tetap ‘makan debu’ dan menunggu kerja nyata yang berkelanjutan.
Momen peresmian memang penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi ke depan. Jangan sampai proyek ini hanya bagus di rilis, memancing headline media, atau menjadi ajang foto pejabat. Ke depan, manfaatnya harus terlihat di jalan, di kebun, dan di rumah warga, setiap hari.
Kini, suasana di Bayung Lencir mulai berubah. Anak-anak bisa menyeberang jalan lebih aman, aktivitas berkebun berjalan tanpa gangguan debu setiap kali truk melintas, dan perjalanan lintas timur mulai lebih lancar.
Namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan manfaat proyek terasa terus-menerus, bukan hanya saat momen groundbreaking atau kunjungan pejabat.
Pemkab Muba dan Pemprov Sumsel punya peran penting untuk menjaga agar proyek ini benar-benar berdampak nyata.
Pengawasan ODOL dan kepatuhan perusahaan harus dijalankan konsisten, bukan hanya saat pejabat hadir.
Sanksi tegas bagi pelanggar juga perlu diterapkan agar aturan bukan sekadar tulisan di kertas.
Dengan langkah-langkah ini, overpass bisa menjadi bukti bahwa pembangunan benar-benar berpihak pada rakyat, bukan sekadar pencitraan.
Bagi warga, pekerjaan rumah terbesar adalah memastikan janji-janji di rilis resmi tidak hanya menjadi kata-kata indah, tapi diwujudkan dalam kenyataan sehari-hari. Mereka ingin melihat ke depan, jalan lancar, debu berkurang, aktivitas warga tidak terganggu, dan keselamatan benar-benar terjamin.
Bayung Lencir sedang memulai babak baru. Jalan lebih bersih, kemacetan berkurang, dan warga mulai bisa bernapas lega.
Tapi kesuksesan jangka panjang proyek itu bergantung pada keseriusan Pemkab Muba dan Pemprov Sumsel untuk kerja nyata, bukan hanya sorak-sorai peresmian.
Simbol fisik overpass hanyalah awal, bukti nyata adalah kenyamanan, keselamatan, dan kualitas hidup warga yang terlihat setiap hari.
Jika semua dijalankan, Bayung Lencir bukan hanya punya overpass yang tampak hebat di media, tapi jalan lebih aman, aktivitas warga tidak terganggu, dan manfaat proyek benar-benar dirasakan masyarakat. Pesan warga tegas tapi sederhana, jangan hanya bagus di rilis, tapi manfaat nyata harus terlihat setiap hari. (***)/one














