PINGINTAU.ID, JAKARTA – Gedung Juang Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kamis 11 Juni 2026 malam mendadak hening. Tidak ada riuh diskusi kebijakan ataupun suara presentasi yang biasa menggema. Suasana khidmat justru menyelimuti ruangan ketika puluhan kepala daerah beserta pasangan mereka duduk terkurung dalam perenungan mendalam.
Setelah seharian penuh mengikuti rangkaian pembekalan Penguatan Antikorupsi untuk Penyelenggara Negara Berintegritas (PAKU Integritas), para pejabat publik ini diajak berhenti sejenak. Malam itu, jabatan tidak lagi dibahas sebagai simbol kekuasaan atau kewenangan administratif, melainkan sebuah amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam ruang refleksi tersebut, istilah “integritas” tidak lagi menjadi jargon normatif. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan benar diposisikan sebagai kompas moral yang menjaga kehormatan diri, keluarga, serta institusi yang mereka pimpin.
Perjalanan Spiritual dan Pengingat “Menuai Apa yang Ditanam” Nuansa perenungan semakin menyentuh sanubari ketika profesional motivator dari ESQ, Bramanto G. Wibisono, mengajak para peserta menengok kembali tujuan awal mereka saat pertama kali memilih jalur pengabdian masyarakat.
“Hari ini seperti perjalanan spiritual. Hari ini, kita masih diingatkan agar selalu menjaga diri. Karena ingat, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai,” ujar Bramanto dengan nada penuh perenungan.
Sesi refleksi ini menjadi penutup emosional dari rangkaian kegiatan PAKU Integritas yang berlangsung sejak pagi. Namun, KPK menegaskan bahwa pesan yang dibangun tidak boleh berhenti di ruang pelatihan.
Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menjelaskan bahwa seluruh materi dirancang untuk menyentuh sisi humanis para pemimpin daerah agar kesadaran yang muncul bisa bertransformasi menjadi aksi nyata.
“Kami ingin memicu sisi emosional para pimpinan daerah agar tidak hanya memahami nilai integritas secara konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan rencana aksi di daerah masing-masing melalui kebijakan dan tata kelola yang bersih,” tegas Wawan.
Menjaga Diri Demi Anak Cucu
Bagi para peserta, momentum ini menjadi alarm keras untuk membentengi diri dari godaan syahwat kekuasaan. Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, memandang integritas sebagai warisan terbaik yang harus diteladankan kepada generasi penerus.
“Kita tularkan pembekalan ini kepada yang lain. Jangan hanya memikirkan kesenangan sesaat, tetapi pikirkan anak cucu kita. Kita bekerja dengan niat setulus-tulusnya tanpa menimbulkan permasalahan,” ungkap Erwan.
Tamparan Realita di Rutan KPK
Sebenarnya, guncangan batin para peserta sudah dimulai sejak siang hari. Sebelum memasuki ruang refleksi, puluhan kepala daerah ini diajak melakukan tour yang tidak biasa mengunjungi Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK.
Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat fasilitas pemasyarakatan, melainkan menyajikan tamparan realita yang nyata mengenai konsekuensi hukum, sosial, dan moral akibat tindak pidana korupsi. Melihat langsung ruang sempit di balik jeruji besi di mana para koruptor ditahan, meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi para peserta.
Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Isvie, mengakui bahwa pengalaman melihat langsung rutan KPK tersebut memberikan gejolak emosi dan refleksi yang sangat kuat bagi dirinya dalam memandang batas tipis antara pengabdian dan kehancuran.
Melalui kegiatan ini, KPK berharap para kepala daerah pulang membawa komitmen baru—bukan lagi sekadar membawa pulang sertifikat, melainkan membawa nurani yang bersih untuk memimpin daerah mereka masing-masing. (Rel)















