PINGINTAU.ID, KOTA BIMA – Pemerintah Kota Bima melalui Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP. PKK) terus memacu peningkatan kapasitas kader serta pemberdayaan keluarga. Langkah strategis ini diwujudkan melalui penguatan sinergi bersama TP. PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ditandai dengan kunjungan kerja Ketua TP. PKK Provinsi NTB beserta rombongan dalam rangka tiga agenda pembinaan dan pelatihan di Kota Bima.
Adapun tiga agenda utama yang digelar meliputi Pembinaan Dasawisma PKK di Aula Kantor Camat Raba, Pelatihan Olahan Pangan “AKU HATINYA PKK” di Kecamatan Asakota, serta Pelatihan Penguatan Peran Perempuan dalam Penanganan Bencana di Aula Kantor Kelurahan Jatibaru.
Kehadiran Ketua TP. PKK Provinsi NTB, Bunda Sinta M. Iqbal, beserta rombongan disambut hangat oleh Ketua TP. PKK Kota Bima, Hj. Badrah Ekawati, S.E., S.Tr.Keb. (Umi Badrah), didampingi jajaran pengurus TP. PKK Kota Bima serta Camat Raba, Faruq Irfan, S.IP., saat pembukaan kegiatan di Aula Kantor Camat Raba, Jumat 16 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Umi Badrah menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam atas perhatian serta bimbingan dari TP. PKK Provinsi NTB. Menurutnya, momentum ini sangat krusial bagi para kader di Kota Bima untuk memperluas wawasan, mengasah keterampilan, dan mengoptimalkan implementasi 10 Program Pokok PKK di tengah masyarakat.
“Kami berharap seluruh kader dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk belajar, menambah pengalaman, dan menerapkan ilmu yang diperoleh. Dengan begitu, manfaat dari pelaksanaan program PKK dapat dirasakan secara langsung dan nyata oleh masyarakat,” ujar Hj. Badrah.
Di sisi lain, Ketua TP. PKK Provinsi NTB, Bunda Sinta M. Iqbal, menggarisbawahi pentingnya penguatan kelompok Dasawisma, terutama dalam aspek tata kelola administrasi dan pendataan keluarga. Ia menegaskan bahwa data yang akurat dan terstruktur merupakan fondasi utama dalam merancang program pemberdayaan yang tepat sasaran.
Bunda Sinta juga mengingatkan para kader untuk mengedepankan pendekatan persuasif dan komunikasi yang humanis saat mengumpulkan data warga. Hal ini mengingat masih ada kekhawatiran dari sebagian masyarakat terkait kerahasiaan dan keamanan data pribadi mereka.
“Kader harus mampu membangun kepercayaan masyarakat melalui komunikasi yang ramah dan terbuka, sekaligus memastikan bahwa data yang dihimpun benar-benar dijaga kerahasiaannya dan dimanfaatkan murni untuk kepentingan program pemberdayaan,” (Suhairy)













