PINGINTAU.ID, KOTA BIMA-Implementasi inovasi pengolahan sampah perkantoran menjadi pupuk organik terbukti cukup efektif, terlebih saat dikolaborasikan dengan pembuatan kebun hortikultura di area perkantoran. Inovasi ini sekaligus menjadi manifestasi nyata dalam mendukung program pusat Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) serta program daerah Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat, Asri) yang digagas Wali Kota Bima H. A. Rahman H. Abidin, SE dan Wakil Wali Kota Bima Fery Sofyan, SH.
Pantauan PINGINTAU.ID di lapangan menunjukkan bahwa kedua program berskala nasional dan daerah tersebut telah diimplementasikan oleh sejumlah instansi di lingkup Pemerintah Kota Bima. Salah satunya adalah Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Bima melalui Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (Idwasbang).
Kepala Bakesbangpol Kota Bima, M. Natsir, M.Pd, membenarkan langkah inovatif yang diambil organisasinya dalam menindaklanjuti program Gerakan Indonesia ASRI dan Kota Bima BISA tersebut.
“Kami menerapkan inovasi dengan membuat kebun hortikultura di area belakang kantor, lalu menyulap sampah kantor menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan untuk memupuk berbagai jenis tanaman sayuran,” ungkap Natsir saat dikonfirmasi sebelumnya.
Natsir turut mengapresiasi gagasan dan dedikasi Kepala Bidang Idwasbang Bakesbangpol Kota Bima, Agussalim, S.Pt, yang hasil karyanya kini telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh pegawai kantor.
Secara terpisah, Kabid Idwasbang Bakesbangpol Kota Bima, Agussalim, S.Pt, memaparkan bahwa inovasi ini dirancang selaras dengan tugas dan fungsi Bakesbangpol, yang dinamai Inovasi Bio-Pancasila (Biopori Pengolahan Sampah Menjadi Pupuk Organik Berbasis Sila).
“Kami sudah memulai inovasi ini sejak bulan Juli lalu. Alhamdulillah, hasilnya sudah bisa kita nikmati bersama,” ujar Agussalim saat ditemui sedang menyiram tanaman sayur di area perkantoran, Minggu sore (11/10/2026).
Menurut Agussalim, inovasi Bio-Pancasila secara umum menjadi solusi konkret dalam mengatasi persoalan sampah di lingkungan perkantoran. Secara teknis, Bakesbangpol Kota Bima membuat fasilitas berupa meja lonjong beralaskan buis beton yang dilengkapi lima kursi duduk.
“Lima kursi buis ini merupakan simbol dari lima sila Pancasila, sekaligus difungsikan sebagai wadah fermentasi sampah kantor untuk diolah menjadi pupuk organik,” terang Agussalim.
Selain berfungsi ekologis, meja lonjong dan lima kursi tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi terbuka (open space) untuk membahas berbagai topik seputar ideologi, wawasan kebangsaan, maupun isu-isu strategis yang berkembang di daerah.
Keberadaan kebun hortikultura yang ditanami aneka sayuran ini tak hanya menciptakan suasana kerja yang asri dan sejuk di bawah rimbunnya pohon mangga, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan dapur para pegawai.
“Suasana berdiskusi di sini terasa sangat nyaman karena tempatnya asri dan teduh,” pungkas Agussalim. (Suhairy)












